(Dosen Pengampu : Renny)


Seperti yang sudah kita ketahui, terjadi perang saudara di Timika akibat pemerkosaan yang dilakukan salah satu pihak. Perang ini terjadi karena memang sudah adatnya seperti itu. Polisi yang bertugas disana telah berusaha menghentikan perang saudara tersebut dengan membuat barikade yang memisahkan kedua pihak. Polisi melakukan hal ini agar tidak memakan korban luka-luka dan korban jiwa lebih banyak lagi. Menurut adat warga, nyawa dibayar dengan nyawa. Maka dari itu jumlah orang yang terluka atau meninggal di satu pihak harus sama dengan pihak lawannya dan meminta polisi untuk tidak ikut campur dalam penyelesaian masalah ini. Namun sebagai pihak yang berwajib hal ini harus diselesaikan dengan damai karena menyangkut dengan nyawa manusia.
Kalau tidak salah, pihak yang melakukan pemerkosaan harus membayar sejumlah uang kepada pihak yang ia perkosa, namun jumlah uang yang diberikan tidak memenuhi yang diinginkan. Perang saudarapun pecah lagi.
Entah kapan dan bagaimana penyelesaian yang benar atas masalah ini. Mungkin karena daerah Timika masih pekat dengan adat istiadat yang mereka jalani, maka mereka tidak dapat menyelesaikan masalah dengan damai.
Dari hal ini kita dapat belajar sesuatu, yaitu menerapkan adat istiadat masing-masing budaya, namun pilihlah baik-baik mana adat yang masih layak dipergunakan di zaman sekarang

0 komentar:

Posting Komentar